Saya Jadi Protestan

Doa Harian Katolik

Saya Jadi Protestan

Ketika masih tinggal di Jakarta, saya pernah mengalami rasa bosan ikutan misa. Bagi saya, Misa ya paling begitu-begitu saja. Ada lagu pembukaan yang dinyanyikan umat, false. Terus bacaan I & II, yang membaca suaranya tidak seperti penyiar TV alias cempreng, kita ngedumel. Kemudian pastor kotbah, tidak menarik, sehingga biasanya saya tertidur pulas sampai ngorok. Ini beneran bukan ngarang lho. Sampai-sampai adik saya marah-marah lantaran malu punya kakak seperti saya, yang kalau ke gereja kerjanya tidur melulu. Begitu dari minggu ke minggu, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun.

Akhirnya… saya hengkang dari Misa. Dan…berkat seorang teman saya ikut kebaktian dan doa-doa yang diadakan oleh sebuah perkumpulan dari kelompok gereja-gereja protestan .Kebaktian itu tidak ada liturginya (ada sih tapi sangat bebas dan fleksibel). Pendetanya gonta-ganti, ada yang pinter dan ada juga yang sok keminter. Tetapi harus diakui soal kotbah, pastor harus angkat topi pada para pendeta.

Bayangkan, di sebuah ruang yang kecil (tempat kebaktian) berpindah-pindah dari satu rumah jemaat ke rumah jemaat lainnya, di seputar Jakarta Pusat (Cempaka Putih dan sekitarnya) seorang pendeta bisa berkotbah laksana di sebuah lapangan besar dengan umat puluhan ribu banyaknya. Suarnya lantang dan penuh semangat. Bacaan diambil sesuka pendeta, tidak membedakan antara Perjanjian Lama dan Baru. Makna dan pesan dari bacaan tadi diartikan sesuka hati oleh pendeta (ini kelebihan mereka), kontekstual dengan masa waktu itu (1990-an), walau ada juga yang makna dan artinya dipas-paskan. Kan sesuka pendeta. Lagu-lagu yang dinyanyikan dalam kebaktian itu penuh semangat, kadang-kadang umat mengundang seorang artis untuk menyanyi (saya waktu itu seneng lihat artis yang cantik-cantik, bukan nyanyiannya) dan memberikan kesaksian. Ketika bernyanyi umat bebas mengekspresikan diri, misalnya dengan berputar badan, tepuk tangan dan saling bergandengan tangan. Pokoknya saat menyanyikan lagu kita harus benar-benar happy. Acara ini yang paling saya sukai, saya benar-benar bisa mengekspresikan diri saya dengan sangat sempurna (Kata orang suara saya cukup merdu….). Saya menyanyi sekeras-kerasnya (sampai-sampai keesokan harinya suara saya jadi serak atau bahkan tidak bisa bersuara sama sekali, lantaran suara saya telah saya habiskan di kebaktian), sambil melompat ke sana-sini, meraih tangan seorang gadis cantik kemudian saya ajak dia berputar ke sana kemari. Saya merasakan saat menyanyi seperti keadaan trans atau lupa diri. Rasa ewuh pakewuh tidak ada di sana, semua sama, semua rata : Anak-anak Tuhan!. Yang juga menarik bagi saya adalah saat doa safaat (Doa umat kalau di Katolik).

Di arena ini merupakan ajang lomba doa. Adu pinter dalam berdoa. (Umat Katolik jelas tidak ada apa-apanya dalam berdoa spontan jika dibandingkan dengan umat protestan). Ada yang susunan kata-katanya sangat indah, memohon baik ampunan maupun sesuatu, kadang-kadang mendayu-dayu dan kadang pula keluar kata-kata keras (karena mengutuk setan yang masih saja mengganggu, misalnya). Sering pula disertai tangisan yang sebenar-benarnya, lantaran suaminya berselingkuh misalnya. Terus terang saja, ketika itu saya merasa minder karena tidak bisa berdoa spontan dengan baik dan panjang, indah kata-katanya seperti mereka. Namun mereka tetap memberi saya semangat untuk berani berdoa. Hasilnya memang nyata, beberapa saat kemudian saya bisa juga berdoa mirip mereka, walaupun masih kaku tetapi sudah penuh dengan permainan kata-kata. Misalnya : “Bapa yang ada di dalam sorga terimakasih atas limpahan rahmat dan berkat-Mu kepada kami sumua, tanpa terkecuali, yang ada di ruang ini. Kami siap Bapa dengan hati yang terbuka dan tangan yang menengadah ke langit untuk menerima Roh Kudus-Mu, sebagai pembimbing kami hari lepas hari, minggu lepas minggu, bulan lepas bulan dan tahun lepas tahun. Bapa yang baik, kami hanyalah sebutir debu yang tidak bermakna di hadapan-Mu…kami akan tetap lemah, tanpa daya, tanpa campur tangan-Mu yang maha perkasa itu Bapa.” Dst, dst.

Hebatnya lagi, di saat kita tengah berdoa, ada orang lain yang menimpali doa kita dengan suara yang tidak jelas. Seperti menggumamkan kata-kata tetapi tidak jelas kata apa yang digumamkan. Yang paling sering terdengar adalah kata-kata seperti : Haleluya, Oh Yesus, dan bunyi desis yang cukup panjang. Pada akhirnya saya tahu itulah bahasa Roh. Hanya orang-orang tertentu yang bisa mengusai bahasa Roh, di kebaktian yang saya ikuti ada kira-kira lima atau enam orang, dan anehnya semuanya perempuan. Mungkin perempuan lebih suci dan spiritual dibandingkan dengan kaum pria. Ketika mereka saya tanya apa yang mereka ucapkan tadi jawabannya adalah : tidak tahu!! “Roh Kuduslah yang mengucapkan kata-kata itu. Ia meminjam mulut saya.” Apakah artinya tahu? Mereka serempak menjawab : tahu!! Walaupun sulit diterjemahkan dalam kata-kata. Mereka hanya bisa merasakannya secara spiritual.

Dan yang paling menarik adalah kesaksian. Banyak ragamnya. Ada yang menceritakan pengalaman akibat campur tangan Allah, sehingga ia sekeluarga terhindar dari tabrakan dan masuk jurang, rumahnya tidak jadi dibobol maling, hingga kesaksian bisa selamat dari musibah Kapal Tampomas yang tenggelam. Lalu saya juga mendengar kesaksaksian seorang Yusup Roni, dan beberapa penyanyi yang tadinya hidupnya penuh bergelimang dosa sampai akhirnya ia menjadi penyanyi hanya untuk Allah, dsb. Setelah kebaktian, kami salam-salaman. Biasanya ucapannya begini : “Puji Tuhan Bowo, kamu bisa hadir ikut kebaktian. Sampai jumpa minggu depan di rumah bapak X, misalnya. Pokoknya menarik. Alias tidak membosankan seperti misa di gereja Katolik… Hampir tiga tahun lamanya saya mengikuti kebaktian mereka, dari rumah ke rumah, dari satu acara ke acara berikutnya, dengan penuh semangat. Dengan penuh variasi.

Anehnya saya merasa ada sesuatu yang kurang…

Pada mulanya saya tidak bisa menemukan apa yang “kurang” pada mereka. Seolah semuanya sempurna. Perfect. Dan pada akhirnya… saya merasa…mereka tidak pernah menyebutkan kata-kata: Ibu Maria, Bunda Allah, tidak ada hosti, tidak ada kata-kata: Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia…yang setiap misa kita ucapkan dengan hapal sampai kita sendiri tidak tahu lagi apa maknanya, tidak ada patung-patung dalam gereja, tidak ada suasana yang khusuk, teduh (walaupun mereka punya booklet “Saat Teduh”), tidak ada pengakuan dosa, walaupun sudah puluhan tahun saya tidak pernah lagi mengaku dosa, tidak ada tanda salib yang kita buat ketika masuk dan ke luar gereja… Betul bahwa doa-doa mereka sempurna, tidak membosankan, lagu-lagu mereka bervariasi, dari yang pop, jazz, sampai pada yang sangat megah, kotbah pendetanya nomor satu. Pokoknya tidak ada yang salah. Semuanya sempurna…

Tapi ternyata mereka bukanlah bagian dari tradisi saya, walaupun sudah tiga tahun lebih saya bergaul dan mengikuti mereka dengan cara mereka yang sangat atraktif, variatif dan tidak membosankan. Tetapi mereka tidak punya Rosario. Tidak Punya Hosti. Tidak ada air suci di pintu masuk gereja mereka untuk membuat Tanda Salib. Tidak ada berlutut.

Ternyata saya sangat-sangat merindukan hal-hal yang dulu saya lakukan secara mekanis. Membuat tanda salib dengan cepat, ketika misa pikiran entah ke mana. Doa rosario yang sangat membosankan, dll, dll. Tetapi justru hal-hal inilah yang membuat saya kembali lagi ke gereja Katolik samapi sekarang hingga punya satu istri dan tiga anak. Saya aktif di lingkungan begitu juga dengan istri saya. Ternyata kebosanan atas rutinitas justru di kemudian hari membuat saya kangen atas rutinitas yang sama yang telah saya lakukan. Ternyata setelah saya renungkan berlama-lama. Adalah… saya tidak pernah memberi makna atas rutinitas tersebut. Carilah makna dari rutinitas itu. Doa yang baik adalah doa yang pendek berulang-ulang dan didoakan pada waktu yang hampir sama, setiap hari. Dengan sikap doa yang kontemplatif. Meditatif. Tradisi lagu gereja yang baik adalah lagu yang agung dengan irama yang tidak menghentak-hentak. Dengan bas yang berjalan, tidak melompat-lompat seperti irama jazz atau pop. Aktiflah di lingkungan… anda akan menemukan suatu yang hidup disana. Carilah makna bacaan sebelum anda ikut misa. Jangan hiraukan pastor yang tidak pinter berkotbah. Nikmatilah kotbahnya carilah makna dari kata-katanya yang tidak sempurna itu. Inilah pengalaman saya. Semoga bisa untuk sharing kita.

Maaf jika saya menyinggung saudaraku yang beragama Protestan. Saya tidak bermaksud demikian. Ini adalah perjalanan iman saya, yang justru telah diperkuat oleh iman saudaraku dari gereja Protestan. Anda sangat kaya akan doa. Saya banyak belajar dari Anda. Anda sangat kaya dengan lagu-lagu yang indah dan variatif, saya banyak belajar dari Anda.

Kita menyembah Tuhan yang sama, Yesus yang sama. Kita tetap bersaudara.

Amin!! Amin! dan Amin!!,

Bancar Kembar Estat, Purwokerto

Prabowo Shakti

Seminar Seumur Hidup

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!