Keyword 1

Keyword 2

Burung Bersayap Sebelah

Gede Prama

Suatu kali Nasrudin bertanya pada Tuhan : ”Kenapa saya dikasih istri cantik?” Dengan lembut yang ditanya menjawab : “Karena cantiklah kamu pilih dia!” Belum puas, lagi-lagi Nasrudin bergumam : “Sudah cantik, baik lagi!” Ini juga dijawab sama : “Itu sebabnya kamu pilih dia.” Merasa pertanyaannya dijawab terus, lelaki baik hati ini berbisik : “Kenapa istri saya goblok sekali?” Ini pun dijawab lembut : “Karena gobloklah dia pilih kamu, bila ia pintar akan pilih orang lain!”

Beginilah potret keseharian manusia, mau kelebihan tidak mau kekurangan. Padahal, di mana ada kelebihan di sana ada kekurangan. Bila orang biasa serakah mau yang positif serta marah dengan yang negatif, orang bijaksana lain lagi. Mereka belajar untuk selalu tersenyum pada apa saja yang terjadi. Dalam bahasa analogis, ketidaksempurnaan manusia serupa dengan burung bersayap sebelah. Hanya bisa terbang bila berpelukan. Dan, lebih mudah berpelukan bila kita belajar untuk tersenyum, terutama pada kekurangan-kekurangan.

Seperti alam, siang indah karena ada malam. Matahari dan bintang bekerja sama rapi. Di siang hari matahari menerangi. Dan di malam hari secara rapi bintang terang benderang. Seperti sedang berbisik, bekerja samalah saling melengkapi karena di sana letak rahasia kesempurnaan.

Mengaku diri sempurna, kemudian merasa tidak membutuhkan orang, tidak saja bohong dan sombong, namun juga menjadi awal keruntuhan. HH Dalai Lama agak unik. Bila banyak guru menganggap dirinya baru berhasil setelah mengubah muridnya, pemenang hadiah Nobel perdamaian tahun 1989 ini berpesan : you don’t need to be religious in order to be spiritual. Tidak perlu mengganti tempat ibadah. Menjadi spiritual berarti tidak menyakiti sekaligus banyak menyayangi.

Bila ini pedomannya, banyak sekali orang yang bisa menjadi spiritual. Dari pemimpin perusahaan sampai dengan tukang sapu. Terutama karena dengan saling menyayangi manusia sedang saling berpelukan kemudian terbang bersama. Pria bakat alamiahnya maskulin, makanya tertarik dengan wanita feminim. Atasan pemarah merindukan sekretaris penyabar. Inilah tanda-tanda kesempurnaan. Ia bukan tersembunyi pada keserakahan akan hal yang positif, mencampakkan yang negatif.

Perhatikan atasan, jarang ada yang tidak pernah marah, terutama karena kemarahan kerap membuat organisasi teratur. Di samping itu, seperempat gaji atasan sesungguhnya merupakan biaya marah-marah. Semacam ongkos ke dokter bila nanti stroke.

Kendati demikian, kemarahan bisa dikelola, terutama bila manusia menemukan kebahagiaan dalam tidak menyakiti sekaligus banyak menyayangi. Perhatikan argumen seorang sahabat : when anger disappear enemies disappear. Ketika kemarahan menghilang, musuh juga menghilang.

Ada yang mencoba menghilangkan kemarahan dengan menendangnya, namun di jalan ini kemarahan tidak ditendang. Sejujurnya kemarahan adalah suara dari dalam. Asal diawasi ia juga membimbing.

Perhatikan orang atau situasi yang menimbulkan kemarahan. Kenali polanya, catat kecenderungannya. Setelah itu terkuak rahasianya, kemarahan sejenis energi. Serupa api asal digunakan di waktu, tempat, dan tujuan yang tepat, ia membantu.

Bawahan yang hormat, tetangga tidak sembarangan, anak-anak penurut, itulah sebagian hasil kemarahan yang terkelola. Ada mengerti kemarahan lebih dalam lagi. Seorang guru meditasi berpesan : The best spiritual friend is the one who attacks your hidden fault. Sahabat pertumbuhan yang sesungguhnya adalah mereka yang menyerang kekurangan-kekurangan kita.

Terutama karena mereka membuat kita sabar dan bijaksana. Demikian baiknya, bahkan ia rela masuk neraka. Bila begini memandangnya, bisa dipahami bila ada guru yang menyarankan untuk mencintai orang yang menyakiti.

Perlu dipahami, orang menyakiti sesungguhnya sedang menderita. Memarahinya hanya akan memperpanjang penderitaanya. Bila judulnya adalah “orang menderita” bukan “orang jahat”, maka energi yang muncul bukannya marah melainkan kesediaan untuk menyayangi. Inilah yang dilakukan para bijaksana sehingga bisa senyum-senyum bahkan ketika sedang disakiti.

Gede Prama : adalah penulis buku Simfoni Di Dalam Diri : Mengolah Kemarahan Menjadi Keteduhan, serta buku Sadness, Happiness, Blissfulness : Transforming Suffering Into The Ultimate Healing.

Sumber : Majalah Infobank 2010

Seminar Seumur Hidup

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!