The Fear of God

stand on the word of god

Bukan Damai, Melainkan Pedang

Jangan berpikir bawa Aku datang untuk menegakkan perdamaian di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai,  tetapi pedang.”

Ini perkataan keras bagi semua orang yang mengingat berita para malaikat pada malam kelahiran Tuhan Yesus :”Kemuliaan bagi  Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.” Bagian akhir dari  berita ini seolah-olah berarti ‘damai sejahtera di bumi di antara manusia, sasaran kasih Allah’. Memang, malaikat-malaikat hanya  muncul dalam Lukas 2:14 sedangkan perkataan keras yang kita kutip diambil dari Matius. Tetapi Lukas juga mencatat perkataan  keras ini, hanya saja ia mengganti kata metafora ‘pedang’ dengan kata bukan metafora yaitu ‘pertentangan’ (Luk 12:51). Kedua  penginjil kemudian melanjutkan tulisannya tentang Tuhan Yesus yang berkata, “Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari  ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya” (Mat 10:35; Luk 12:53). Lalu Matius menutup  perkataan ini dengan kutipan dari Perjanjian Lama yang berbunyi ‘musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya (Mikha 7:6).

Satu hal yang sudah pasti : Tuhan Yesus tidak menyokong pertentangan. Ia mengajar pengikutNya untuk jangan melawan atau  membalas kalau diserang atau diperlakukan tidak baik, “Berbahagialah orang yang membawa damai,” kataNya, “karena mereka  akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:9). Artinya Allah ialah Allah Damai Sejahtera, sehingga orang yang mencari dan  meneruskan damai mencerminkan sifat Allah. Ketika Ia melakukan kunjungan terakhir ke Yerusalem, berita yang Ia bawa  menyangkut ‘apa yang perlu untuk damai sejahtera,’ dan Ia menangis karena kota itu menolak beritaNya dan cenderung kepada  jalan menuju kebinasaan (Luk 19:41-44).

Berita yang dikumandangkan pengikut-pengikutNya dalam namaNYa setelah kepergianNya disebut “Injil damai sejahtera” (Ef  6:15) atau “berita perdamaian” (2Kor 5:19). Disebut demikian bukan hanya sebagai ajaran doktrim, tetapi sebagai kenyataan  yang dialami. Individu-individu dan kelompok-kelompok yang dahulunya saling berjauhan mengalami bagaimana mereka saling  akur karena pengabdian yang sama kepada Kristus. Hal semacam ini bahkan dialami lebih awal dalam rangkaian pelayanan di  Galilea. Kalau Simon orang Zelot dan Matius si pemungut cukai mampu hidup berdampingan sebagai dua rasul di antara dua  belas rasul, tentunya rasul-rasul yang lain memandangnya sebagai mukjizat dari kasih karunia Allah.

Tetapi ketika Tuhan Yesus berbicara tentang ketegangan dan konflik dalam keluarga, Ia mungkin berbicara berdasarkan  pengalaman pribadi. Ada indikasi dalam kisah Injil bahwa beberapa anggota keluargaNya sendiri tidak bersimpati dengan  pelayananNya : orang-orang yang dalam suatu kesempatan berusaha untuk mengambilNya dengan paksa karena orang yang  mencibir ‘Ia tidak waras lagi’ disebut ’sahabatNya’ atau ‘keluargaNya’ (Mrk 3:21). Sebab saudara-saudaraNya sendiri tidak  percaya kepadaNya, demikian dikatakan dalam Yoh 7:5. Kalau orang bertanya mengapa saudara-saudaraNya ini menduduki  kursi-kursi kepemimpinan bersama para rasul dalam geraja perdana, maka jawabnya pasti terdapat di dalam 1Kor 15:7, yakni  bahawa Tuhan Yesus yang bangkit menyatakan diri kepada Yakobus saudaraNya.

Jadi kalau Tuhan Yesus berkata bahwa Ia datang bukan untuk membawa damai melainkan pedang, yang Ia maksudkan ialah  bahwa itu adalah akibat kedatanganNya, bukan karena itu menjadi tujuan kedatanganNya. Kata-kataNya menjadi kenyataan  dalam kehidupan gereja mula-mula. Dan kebenaran kata-kata ini telah dibuktikan kemudian dalam sejarah pelayanan misi-misi  Kristen. Waktu satu atau dua anggota keluarga atau golongan masyarakat lainnya menerima iman Kristen, maka hal ini selalu  menimbulkan pertentangan dari anggota-anggota yang lain.

Paulus, yang rupanya juga mengalami pertentangan semacam ini dalam keluarganya sebagai akibat pertobatannya, membuat  perlengkapan bagi situasi semacam ini dalam hidup kekeluargaan para petobatnya. Ia tahu bahwa ketegangan bisa timbul bila  seorang suami atau istri menjadi Kristen sedangkan pasangannya tetap tidak percaya. Bila pasangan yang tidak percaya  merasa berbahagia hidup bersama orang Kristen, itu baik. Seluruh keluarga dalam waktu yang tidak lama akan menjadi Kristen.

Tetapi bila pasangan yang tidak percaya bersikeras untuk meninggalkan dan mengakhiri perkawinan, maka orang Kristen tidak  tidak boleh menggunakan kekerasan atau tindakan-tindakan ilegal, karena ‘Allah memanggil kamu untuk hidup dalam damai  sejahtera (1 Kor 7:12-16).

Jadi dalam kata-kataNya ini, Tuhan Yesus memperingatkan pengikut-pengikutNya bahwa kesetiaan mereka kepadaNya bisa  mengakibatkan konflik di rumah, bahkan pengusiran dari lingkungan keluarga. Adalah baik bahwa merreka diperingatkan  sebelumnya, jadi mereka tidak bisa berkata, “Kami tidak pernah membayangkan bahwa kami harus membayar harga ini untuk  mengikuti Dia!”.

Diterjemahkan dari : “The Hard Saying of Jesus

Seminar Seumur Hidup

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!